Langston Hues, Fotografer Muallaf yang Mempelajari Islam Pasca Tragedi WTC

Fotografer spesialis modest street style asal Amerika Serikat Langston Hues merupakan penganut Katolik tulen. Di kampung halamannya Detroit, Michigan khususnya di black neighborhood, agama Islam bukan sesuatu yang asing. Mayoritas warga kulit hitam di sekitarnya beragama Islam. Biasanya mereka teridentifikasi dari namanya seperti Ahmed, Saleem, Kareem, dan lain-lain. Uniknya, kata Langston, ada popular jokes yang menyebutkan bahwa orang yang pernah dipenjara, biasanya keluar sebagai muslim. Sehingga Langston ingat betul ketika menonton film biopik Malcolm X yang dibintangi Denzel Washington pada 1992, neneknya bergurau, “Tuh kan, kalau kamu masuk penjara, keluarnya pasti jadi orang Islam.” Sebab memang aktivis HAM Malcolm X memeluk Islam ketika di dalam penjara.

langston_2

Usut punya usut, konon solidaritas brotherhood sesama muslim begitu kuat di dalam penjara. Kehidupan para napi di tahanan amat keras, namun sebagai saudara seiman mereka saling melindungi satu sama lain. Ini yang menjadi daya tarik penghuni penjara sehingga banyak yang berpindah keyakinan di dalam tahana. Langston pun sempat tertarik mencari tahu tentang Islam, namun niatan ini menguap begitu saja.

Selepas Tragedi 9/11, citra Islam terjun bebas ke titik nadir. Seorang guru Langston di bangku SMA amat membenci Islam dan selalu berbicara negatif tentang Islam. Namun hal ini justru memantik kembali ketertarikan Langston pada Islam. “Saya malah jadi penasaran, ada apa sih kok dia bisa segitu bencinya pada Islam? Memang ada apa dengan agama ini?”

Terlahir di keluarga penganut Katolik taat, pemilik nama lahir Sheldon Langston ini rajin ke gereja, dan belajar di sekolah minggu. Namun sebenarnya Langston selalu menyimpan keraguan dan kebingungan tentang konsep teologi agamanya. Maka untuk menjawab rasa penasarannya terhadap Islam, Langston kemudian membeli Alquran dengan terjemahan. Membaca ayat demi ayat, Langston merasa “this is it!”

langston_1

Selama ini Langston bingung dengan konsep trinitas yaitu Tuhan hadir dalam tiga pribadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Lebih membingungkan lagi, sebelum wafat di tiang salib kata-kata terakhir Yesus adalah “Oh Tuhan, oh Tuhan, mengapa Engkau meninggalkanku?” “Jika memang Yesus Kristus adalah Tuhan, maka kenapa Dia berkata begitu? Berarti dia ngomong sendiri dong?” tanya Langston. Selain itu, selama ini Langston menyangsikan status Yesus Kristus sebagai Tuhan, karena menurut logika Yesus memiliki lebih banyak sifat manusiawi daripada ketuhanan, seperti merasa putus asa, merasa sakit, bisa mati, dan sebagainya. Sehingga Langston berpikir, mungkin Yesus bukan Tuhan, melainkan ‘hanya’ nabi.

Langston juga ‘menggugat’ kedudukan Yesus sebagai Anak Tuhan. “Secara logika harusnya Nabi Adam dong yang jadi Anak Tuhan, kan Adam manusia pertama di bumi yang tercipta atas kehendak Tuhan?” Namun Islam memandang semua nabi secara sejajar, sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tafsir Surat Al-Ikhlas ayat 3 kian memantapkan hati Langston, “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” Semua kegelisahan hati Langston terjawab sudah. Kini Langston sudah memeluk Islam selama tujuh tahun, menyandang nama Muhammad Sheldon Langston.

Sebagai mualaf, Langston juga sering merasa ‘gemas’ dengan perilaku umat Islam. Dia melihat banyak muslim yang berperilaku jauh dari tuntunan Rasulullah. Contoh yang paling sederhana saja, membuang sisa makanan padahal masih banyak orang kekurangan makanan di dunia ini. “Semua contoh akhlak sudah ada di diri Rasulullah sebagai uswatun hasanah. Amalkan saja apa yang sudah diwariskan Beliau,” tutup Langston.

Manusia menempuh jalan menuju Tuhan secara berbeda-beda. Semoga kisah perjalanan spiritual para mualaf tadi mampu mengingatkan kita kembali akan keindahan Islam, dan betapa beruntungnya kita memeluk satu-satunya agama yang diridhai Allah SWT. Agama yang rahmatan lil’alamin, agama yang kaffah, satu kebenaran hakiki dari Tuhan semesta alam.

Text: Hafsya Umar