Agamamu adalah Budi Pekertimu

Manfaatkan momentum Ramadhan ini untuk melaksanakan muhasabah, introspeksi diri, menyadari akan kekurangan diri untuk kemudian berusaha melakukan perbaikan diri.

Ketika Rasulullah SAW pulang dari suatu perang besar, yaitu perang Bada, yang telah mengorbankan sejumlah syuhada, beliau menyatakan “Kita baru selesai melakukan perang kecil dan akan menghadapi perang yang lebih besar, yaitu perang melawan hawa nafsu sendiri”.

Perang melawan hawa nafsu adalah kesediaan dan kesiapan diri kita untuk mengadakan koreksi diri dan perbaikan diri. Suatu kemajuan baru kita peroleh apabila kita mampu mengenal diri dan mampu memperbaiki diri. Ketajaman kita dalam menilai orang lain, hendaknya disertai dengan ketajaman kita dalam menilai diri sendiri. Keberanian kita untuk mengoreksi orang lain, hendaknya diawali dengan keberanian kita untuk mengoreksi diri kita sendiri.

Berhasilkah kita perang melawan hawa nafsu kita itu? Jawabannya, apa yang nampak pada kenyataan dan akhlaq kita sekarang dan yang akan datang. Bahkan akhlaq dan moral kita sejak hari ini dan seterusnya adalah indikator berhasil atau tidaknya ibadah kita. Sebab suatu ibadah yang berhasil baik, bukan hanya nampak pada proses pelaksanaannya, dimana syarat dan rukunnya terpenuhi, tetapi juga harus nampak pada pelaksanaan akhlaq dari setiap orang yang melaksanakan ibadah tersebut.

Tujuan utama ibadah, sesuai dengan arti ibadah yaitu pengabdian, penghambaan diri kepada Allah untuk mendapatkan ridha-Nya.  Selain sebagai bentuk penghambaan, ibadah itu mempunyai tujuan dan maksud yang berkaitan erat dengan orang yang melaksanakannya, yakni untuk kepentingan dan kemanfaatkan pelakunya di dunia sekarang, selain di akhirat yang akan datang.

Ilmu dan teknologi yang dipersiapkan untuk kesejahteraan manusia bisa menjadi perusak manusia jika tidak dilandasi oleh iman dan akhlaq. Kemampuan administrasi saja tidak akan mampu memberikan jaminan adanya kejujuran dan keteraturan tanpa adanya iman dan akhlaq yang baik dari pelaksananya.

Ajaran penting dari aspek ibadah itu adalah pembangunan akhlaq dan moral bagi pribadi-pribadi yang melaksanakan ibadah tersebut. Kita perlu memantapkan kembali tentang pentingnya pembinaan akhlaq, sebab dari pengalaman yang kita peroleh, kita semakin yakin akan pentingnya akhlaq dalam kehidupan modern sekarang.

Islam sangat menekankan pentingnya akhlaq serta moral dalam setiap kehidupan. Nabi menyatakan “agama itu adalah baik budi pekerti.” Kualitas keimanan seseorang tercermin dari akhlaq pribadinya dan orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling baik budi pekertinya.

Allah SWT telah memerintahkan kepada umatnya untuk melaksanakan sejumlah kewajiban. Sudahkah kita melaksanakan segala titah perintah-Nya itu dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan?

Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk menjauhi segala larangan dan cegahan. Sudahkah kita konsekwen menjauhi segala larangan dan cegahan-Nya?

Allah SWT telah mewajibkan zakat dan infak. Sudahkah kita konsekuen menunaikannya?

Allah SWT telah mewajibkan kepada kita amar ma’ruf nahi munkar, menyuruh dan mengajak orang lain untuk melakukan kebajikan dan mencegah orang dari perbuatan jahat. Sudahkah kita memenuhi perintah-Nya itu?

Allah SWT menganugerahkan kepada kita sejumlah nikmat yang tidak mempu kita hitung. Sudahkah kita mensyukurinya sesuai dengan petunjuk-petunjuk-Nya?

 

Sumber:

Buku Masyarakat Ideal karya Dr. Miftah Faridl