Keuntungan menjadi Seorang Intrapereneur

intrapreneurship

Sekarang ini sepertinya jabatan yang paling keren, yang paling hits, di kalangan fresh graduates adalah entrepreneur. Dari hasil pengamatan saya pribadi saat sedang menjadi dosen tamu di kampus-kampus, kebanyakan sudah memulai usaha sendiri bahkan saat belum lulus, dan bercita-cita untuk membesarkan usahanya pada saat sudah menyandang gelar sarjana.  Fenomena ini sepertinya tidak lepas dari cerita kesuksesan bilioner-bilioner muda seperti misalnya Mark Zuckerberg (founder Facebook) dan Kevin Systrom (founder Instagram), yang menjadi inspirasi bagi para calon sarjana.

Namun tidak semua orang sudah memiliki keyakinan untuk langsung menjadi entrepreneur setelah lulus kuliah. Alasannya banyak faktor, yang paling umum biasanya: merasa belum mempunyai cukup pengalaman, tidak memiliki modal finansial, kurang network, dan belum direstui orang tua. Sounds familiar? Kamu tidak sendirian – karena banyak sekali yang merasakan hal yang sama, termasuk saya sendiri. Setelah bekerja selama 10 tahun sebagai professional di salah satu perusahaan FMCG terbesar di Indonesia, baru saya berani memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur – setelah sebelumnya melatih diri saya sendiri untuk menjadi seorang intrapreneur.

Apakah intrapreneur itu? Intrapreneur adalah seorang karyawan yang bertindak seperti entrepreneur di perusahaan tempat ia bekerja. Ini adalah sebuah konsep yang mulai banyak diusung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Dreamworks. Google mendorong karyawan-karyawannya untuk menghabiskan 20% dari waktu kerja mereka mengerjakan hal-hal di luar dari job description mereka. Gmail adalah salah satu hasil sukses dari program ini. Sementara Dreamworks mengadakan kelas-kelas di mana karyawan belajar bagaimana caranya menjual dan mempresentasikan ide-ide mereka kepada manajemen pimpinan; diikuti dengan prakteknya.

Menjadi seorang intrapreneur adalah jembatan yang sangat baik untuk nantinya menjadi seorang entrepreneur. Dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki perusahaan tempat kamu bekerja, kamu bisa mendapatkan keahlian-keahlian yang dibutuhkan, mengerti proses bisnis, dan belajar mendapatkan kepercayaan diri untuk mengelola usaha kamu sendiri di kemudian hari.

Keuntungan menjadi seorang intrapreneur sebelum memutuskan menjadi entrepreneur:

1. Belajar untuk gagal, dengan resiko minimal.

Seperti halnya entrepreneur, seorang intrapreneur pun bisa gagal dalam menjalankan idenya. Bedanya, gagal saat menjadi intrapreneur tidak akan berpengaruh terhadap arus kas kamu – karena kerugian akan diserap oleh perusahaan, dan gaji bulanan akan tetap masuk. Tapi pelajaran “mengapa bisa gagal?” dan bagaimana supaya tidak terulang kembali akan tetap melekat dan menjadi pengalaman yang sangat berharga saat sudah menjadi entrepreneur.

2. Lebih mudah untuk “menjual diri”

Sales skills wajib hukumnya untuk seorang entrepreneur. Tanpa kemampuan “menjual diri” dan “menjual ide” ke calon partner, calon konsumen, calon investor, bahkan calon karyawan, bisnis kita tidak akan bisa bertahan. Menyandang predikat jabatan dari perusahaan tempat kita bekerja bisa melicinkan jalan untuk bertemu orang yang tepat, sekaligus juga memberi kita tambahan kredibilitas saat berbicara dengan orang-orang tersebut. Manfaatkan saat-saat ini sebagai ajang latihan untuk menjual diri dan ide-ide kamu. Jangan lupa bangun network sebanyak mungkin dibangun, dan pelihara dengan baik – karena nanti pasti akan berguna saat sudah menjadi entrepreneur.

3. Berlatih menjadi seorang leader, sekaligus team player

Untuk menjadi seorang entrepreneur sukses, pastinya kita harus bisa menjadi leader yang baik untuk karyawan-karyawan kita. Bekerja di sebuah perusahaan bisa membantu kita untuk mengidentifikasi karakter-karakter leader yang baik, untuk diikuti – dan yang kurang baik, untuk tidak diikuti pada saat nanti kita sendiri sudah menjadi entrepreneur. Selain itu, kita pun akan sudah terbiasa bekerja dalam tim – sehingga kemampuan berkomunikasi dan bekerja-sama seharusnya sudah terbentuk dengan baik.

Sayangnya, banyak yang begitu sudah menjadi karyawan lalu terlena dengan stabilitas dan ritme kerja sehari-hari, sehingga lupa untuk terus mengibarkan semangat intrapreneurship. Yang dikerjakan hanya job description yang tertera di kontrak saja – padahal akan lebih banyak manfaatnya apabila kita menjadi intrapreneur, seorang entrepreneur dalam perusahaan yang melakukan sesuatu di luar job description yang akan membantu bisnis perusahaan untuk makin maju. Selain membuat diri kita lebih berguna bagi perusahaan – yang tentunya akan dihargai dengan antara lain promosi jabatan dan kenaikan gaji, juga bisa membekali diri untuk menjadi entrepreneur kelak.

Jadi, kalau sekarang sedang galau karena merasa tujuan hidupnya ingin menjadi entrepreneur tapi merasa belum siap – jadi intrapreneur saja dulu; sekaligus cek ombak sebelum benar-benar menjadi entrepreneur. Lebih baik memulai  sedikit “terlambat” kan, daripada buru-buru tapi kurang persiapan?

Teks: Desy Bachir